Nasib BBM Hari Ini Murah Tapi Langka

Nasib BBM Hari Ini Murah Tapi Langka

350
0
BAGIKAN KE
Nasib BBM Hari Ini Murah Tapi Langka
Antrian BBM: Nasib BBM Hari Ini Murah Tapi Langka

Nasib BBM Hari Ini Murah Tapi Langka

Masyarakat seharusnya bisa merasakan harga baru bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar sejak Selasa (5/1). Namun, harga BBM yang lebih murah tidak bisa dirasakan semua orang dengan leluasa. Sebab, beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) malah kehabisan stok dan tutup lebih cepat.
Fenomena itu hampir terjadi di seluruh wilayah dengan jumlah beragam. Bukan karena PT Pertamina (Persero) selaku penyedia kehabisan stok bahan bakar, melainkan karena banyak sekali pengusaha SPBU yang tidak mau rugi menjual bensin lebih murah dari harga kulakan. Jadinya, stok yang sudah menipis langsung habis begitu dijual lebih murah.
Sebagaimana diketahui, sejak kemarin berlaku harga baru untuk premium, yakni Rp 7.050 per liter (luar Jamali Rp 6.950 per liter) dan solar Rp 5.650 per liter
Masalah muncul karena saat memesan lagi, butuh waktu untuk pengiriman.
Di Surabaya, antrean panjang terjadi di SPBU di Jalan Jakarta, Margomulyo, Nyamplungan, dan sejumlah SPBU di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak.
Di Jalan Laksda M. Nasir, Tanjung Perak, misalnya. Antrean kendaraan bahkan mencapai 500 meter. Ratusan truk besar dengan bermacam muatan terpantau mengantre sejak pagi.
SPBU di beberapa kota di Jawa Timur juga terpantau menutup tangki pengisian premium dan solar. Warga Jember terlihat antre di sejumlah SPBU. Bahkan, salah satu SPBU di kawasan kota, Jalan Ahmad Yani, Jember, kehabisan BBM jenis premium, pertamax, dan pertalite.
Di Kulonprogo, Jogjakarta, sejumlah SPBU mengalami kekosongan stok lantaran ada pengurangan kuota pesanan yang dilakukan pengusaha untuk menghindari kerugian. Pengawas SPBU Ngramang, Yulianto, menuturkan, pengiriman terakhir diterima Senin malam (4/1) dengan jumlah separo dari hari biasa. Jika biasanya per hari 16 ribu liter, malam itu permintaan hanya 8.000 liter. ’’Jadi pagi ini sudah habis. Sore mungkin sudah datang,’’ ujar Yulianto kemarin siang.
Di Solo, salah seorang pelanggan, Ukky Primartantyo, harus berpindah hingga lima SPBU untuk membeli solar. Dia mengaku bermaksud membeli solar di SPBU di Karanganyar seperti Bejen, Popongan, dan Lalung. Namun, semua pasokan habis.
Sejumlah SPBU kosong juga terjadi di luar Jawa. Di Provinsi Riau, juga ada laporan penutupan layanan. Kekosongan itu tidak hanya terjadi di kota besar seperti Pekanbaru, tetapi juga berdampak hingga ke kota lain seperti Kota Dumai dan Duri.
Warga Kota Padang juga mengeluhkan banyaknya SPBU yang mengalami kekosongan. Antara lain, SPBU Indarung, Jati, Sawahan, Lubuk Buaya, Tabing, dan Air Tawar. Di sejumlah SPBU yang masih beroperasi seperti di Jalan Khatib Sulaiman, depan bundaran DPRD Sumbar, dan SPBU Ranah, terpantau antrean kendaraan cukup panjang yang hendak mengisi BBM.
Salah seorang pengemudi angkutan kota rute Pasar Raya–Lubuk Buaya Deli mengeluhkan kekosongan bahan bakar dan berharap segera terisi. ’’Kalau begini, kami tidak bisa beroperasi, meski harga minyak turun. Yang ada malah kosong,’’ ujarnya.
Hari Ini Beres Saat dikonfirmasi, Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengakui produk yang banyak kosong adalah premium dan solar. Maklum, dua bahan bakar itu masih menjadi favorit dan konsumennya paling banyak dibanding jenis lainnya. ’’Malam ini (tadi malam, Red) sudah kami amankan,’’ ujarnya.
Cepat habisnya stok SPBU juga disebabkan perilaku konsumen yang sengaja tidak mengisi bensin sampai kemarin. Informasi penurunan harga premium dan solar sejak jauh hari membuat konsumen punya kesempatan mengosongkan tangki bensinnya. Jadinya, tangki bensin bisa dipenuhi dengan harga yang lebih murah saat penurunan harga tiba.
Selain itu, beberapa pengusaha SPBU tidak bisa segera kulakan memasok bahan bakar karena tidak boleh membeli dari Perta- mina sejak H-2 harga baru. Aturan yang dikeluarkan Kementerian Keuangan ( Kemenkeu) itu membuat pengusaha hanya bisa membeli pasokan BBM tepat pada hari H. ’’Selisihnya terlalu besar, dan tidak ada lagi keringanan untuk kulakan pada H-2. Beginilah akibatnya,’’ jelasnya.
Dulu, mekanisme pembelian H-2 sangat mengurangi kerugian pengusaha. Sebab, pengusaha sudah membeli bensin harga baru, tapi masih menjual di harga lama yang lebih mahal.
Secara terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hiswana Migas Wilayah DKI Jakarta, Jawa barat, dan Banten Juan Tarigan mengakui ada SPBU yang meng- habiskan jatah dengan harga lama lebih dahulu. Menurut dia, langkah tersebut dimaklumi karena pengusaha tidak mau merugi.
Meski demikian, dia mengatakan bahwa sikap itu tidak mencerminkan seluruh pengusaha SPBU. Sebelum berlakunya harga baru, lanjut dia, pimpinan pusat Hiswana Migas sudah mengirimkan surat untuk mengantisipasi. ’’Kami ini sebenarnya bukan pengusaha murni, karena ada penugasan untuk menjaga distribusi BBM,’’ katanya.
Saat ini, dia menyebut para pengusaha sedang menunggu kebijakan Pertamina yang katanya siap memberikan kompensasi. (dim/JPG/c17/kim/jawapos.com)