Mengungkap Kejayaan Nusantara Kerajaan Bumayasasta 7200 SM

Mengungkap Kejayaan Nusantara Kerajaan Bumayasasta 7200 SM

2438
0
BAGIKAN KE
Kejayaan Nusantara Kerajaan Bumayasasta

Mengungkap Kejayaan Nusantara Kerajaan Bumayasasta 7200 SM

Kejayaan Nusantara Kerajaan Bumayasasta ini berdiri pada sekitar ±7200 SM, dengan pusat pemerintahannya yang berada di sekitar Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat sekarang. Orang yang mendirikan kerajaan ini bernama Humanayun yang kemudian bergelar Ratu Humanayun Humatani Suwakti Drugari. Peradaban yang dimiliki oleh kerajaan ini sudah tinggi, bahkan jauh sebelum orang Sumeria, Mesir, China atau bangsa Eropa membangun peradabannya. Dan begitulah nenek moyang bangsa Nusantara yang sesungguhnya, mereka adalah orang-orang hebat dan pernah menjadi pelopor dari peradaban dunia.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Kisah berdirinya kerajaan ini dimulai ketika Humanayun masih tinggal di tempat kelahirannya, yaitu kerajaan Zayamata, yang kini berada di sekitar kepulauan Andaman bagian selatan (sekarang sudah menjadi lautan). Ia adalah seorang pangeran di kerajaan itu dan memiliki dua orang saudara lainnya. Yang tertua adalah seorang laki-laki bernama Hartamuni, sementara yang bungsu adalah seorang perempuan bernama Mayasina. Ayahnya, raja dari kerajaan Zayamata bernama Jayabara (bergelar Aryadupa), sedangkan ibunya bernama Hartinumaya Sari.

Awalnya kehidupan mereka ini sangat harmonis, meskipun kedua adiknya senang berfoya-foya dalam hidup dan cenderung agak malas. Sikap ini sangat jauh berbeda dengan Humanayun yang justru sangat rendah hati dan senang mencari ilmu kepada banyak orang yang bijak. Hingga pada akhirnya, pamannya, yaitu adik kandung dari bapaknya yang bernama Karanuti berhasil menghasut adik laki-laki Humanayun yang bernama Hartamuni untuk merebut tahta kerajaan. Ia benar-benar lupa bahwa tahta itu sudah menjadi hak dari kakaknya sejak lahir.

Singkat cerita, sampailah pada waktu dimana Hartamuni meminta langsung kepada ayahnya, yaitu raja Jayabara, untuk menyerahkan tahta kepadanya. Mendapati hal itu, awalnya sang ayah tidak langsung menyetujui permintaan itu. Ia bahkan merahasiakan hal itu dari anak tertuanya, sampai pada akhirnya ia jatuh sakit. Melihat keadaan ayahnya yang tidak sehat, Humanayun lalu bertanya apa gerangan yang menyebabkan ayahnya itu bisa seperti itu. Hidup tapi tidak lagi bergairah, bahkan sakit-sakitan. Terus saja ia mendesak, hingga pada akhirnya sang ayah mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sang ayah lalu menjelaskan bahwa adiknya Hartamuni meminta tahta yang seharusnya menjadi hak dari Humanayun.

Mengetahui hal itu, Humanayun tidak begitu terkejut apalagi marah. Dan sebagai seorang yang rendah hati dan tidak terlalu tertarik dengan jabatan, akhirnya ia merelakan tahta kerajaan itu diberikan kepada adiknya itu, asalkan sang ayah bisa segera sembuh dari sakitnya. Mendengar jawaban dari anak kesayangannya itu, sungguh terharulah raja Jayabara hingga dari kedua matanya mengalirlah air yang deras.

Selajutnya, pada waktu yang telah ditentukan, tahta kerajaan pun diserahkan kepada anak kedua yang bernama Hartamuni itu. Namun disini caranya dengan menyerahkan tahta kerajaan kepada anak tertua (Humanayun) terlebih dulu. Setelah itu, di waktu yang sama, barulah Humanayun memberikan tahta itu kepada adiknya Hartamuni. Demikianlah prosesi serah terima jabatan atau peralihan kekuasaan yang terjadi di kerajaan Zayamata pada waktu itu. Berlangsung secara aman dan damai.

Setelah itu, sebagai seorang yang sudah banyak menimba ilmu dari banyak guru, pangeran Humanayun tidak berhenti disitu saja. Ia juga sudah mengetahui bahwa ada konspirasi dari pamannya untuk membunuh dirinya. Karena itulah, ia lalu memutuskan untuk segera pergi dari kota kerajaan dan memulai kehidupan yang baru. Dan sebagaimana tradisi pada masa itu dimana setiap raja atau pangeran pasti memiliki guru spiritual (yaitu seorang Resi), maka pangeran Humanayun telah mendapatkan wejangan dan bekal dari gurunya. Orang bijak itu bernama Puratani Murtayani. Dari sosok itu pangeran Humanayun juga mendapatkan sebuah bahasa dan aksara. Bahasanya bernamaGumali, sementara aksaranya bernama Gumartayasa. Bahasa dan aksara ini sebelumnya didapatkan oleh sang Residari Bhatara Brahmawiyasa. Pesan Resi Puratani adalah bahwa bahasa ini akan digunakan pada peradaban yang akan dibangun oleh pangeran Humanayun.

Singkat cerita, pangeran Humanayun pun akan berangkat meninggalkan kerajaan. Namun, sebelum keberangkatannya, maka raja Jayabara memberikan pesan kepada anaknya itu. Ia berkata; “Berjalanlah ke arah selatan. Dimana pun engkau menemukan mata air, maka disanalah engkau harus mendirikan peradaban”. Lalu setelah dirasa cukup, maka pangeran Humanayun beserta istrinya yang bernama Sinarisa Hayatida dan satu bayi laki-lakinya yang bernama Druwegti Irani, pergi meninggalkan kerajaan dengan berjalan kaki.