Asal Usul Kehidupan Mulai Awal Penciptaan Jagad Raya

Asal Usul Kehidupan Mulai Awal Penciptaan Jagad Raya

1738
0
BAGIKAN KE
Asal Usul Kehidupan

Asal Usul Kehidupan Berdasarkan Ilmu Kebatinan.

Asal Usul Kehidupan. Sejak dahulu kala orang Jawa sudah memiliki satu pemahaman sendiri tentang penciptaan. Mereka bisa mendapatkan itu karena olah raga dan olah jiwa yang telah mereka lalui. Benar atau salah hanya Tuhan yang tahu. Dan menurut mereka, maka jagat raya ini mempunyai proses penciptaannya. Tuhanlah yang menciptakannya sesuai dengan kehendak-Nya.
Untuk lebih jelasnya, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1) Asal Mula Ramai dari Sepi (Asal Usul Kehidupan)
Wahai saudaraku. Kita akan mengungkap kelahiran dan perkembangan jagat raya ini dimulai dari Alam Sonya Ruri, sebelum jagat raya ini tergelar. Ini sesuai dengan pengungkapan dari sudut pandang Kebatinan Jawa, dari sudut pandang pengetahuan spiritual (spiritual knowledge), yang istilah lokalnya adalah ngelmu.

Perlu digaris bawahi bahwa budaya Jawa tidak anti kepada ilmu dan perkembangannya yang berguna bagi umat manusia. Tetapi untuk kehidupan yang lebih baik, komplit dan benar secara lahir batin, maka bagi orang Jawa yang sejati diperlukan elmu dan ngelmu. Karena itu, ketika para pakar dunia menjelaskan proses terjadinya alam raya dari sudut science (ilmu pengetahuan, secara ilmiah) seolah-olah lepas kendali (kebetulan), maka orang Jawa akan mengatakan bahwa kehidupan itu ada dan berkembang secara pasti. Segala sesuatunya pun ada yang menciptakan serta mengaturnya, Dia-lah Gustri Pangeran (Tuhan YME).

Wahai saudaraku. Pada mulanya di Bumi ini para Mudita (manusia awal) memilih tinggal di tempat-tempat yang aman dan tanahnya subur. Jumlah Mudita itu sudah beragam warna kulit, budaya dan bahasanya – dalam hal ini masih bahasa isyarat dan telepati. Mereka pun semakin bertambah, sehingga Bumi menjadi lebih ramai. Lalu terciptalah bahasa yang bisa mengungkapkan segala kejadian di masa lalu. Ini terus berkembang, hingga pada akhirnya timbullah ungkapan dalam bahasa Jawa: “Witing rame soko sepi, witing gumelar soko sonya” yang artinya asal ramai dari sepi, jagat tergelar asalnya dari kosong.