Life Of Pie Yanti Kisah Dokter Penyelamat Harimau Korban Konflik

Life Of Pie Yanti Kisah Dokter Penyelamat Harimau Korban Konflik

700
0
BAGIKAN KE
Life Of Pie Yanti Kisah Dokter Penyelamat Harimau

Life Of Pie Yanti Kisah Dokter Penyelamat Harimau Korban Konflik

Life Of Pie Yanti Kisah Dokter Penyelamat Harimau
Life Of Pie Yanti Kisah Dokter Penyelamat Harimau

Erni Suyanti Musabine bertugas menangani harimau yang kena jerat atau terluka dan merelokasinya ke tempat aman. Jatuh cinta kepada satwa liar
Berkat film
’’Binatang punya jiwa… saya sudah melihatnya di mata
Mereka.’’ ’’Pi’’ Patel, Life of Pi
DI hadapannya, seekor harimau sumatera terperangkap jerat.
Tapi, tak ada sumpit yang memadai. Untuk bisa membiusnya sebelum nanti dibebaskan dari perangkap itu, Erni Suyanti Musabine pun harus melakukannya dengan tangan
Nilai tambah pun menjadi jauh panggang dari api.
”Kondisi pekerja Indonesia kurang lebih 100 juta: 70 persen bekerja di sektor informal, selebihnya 30 persen di sektor formal. Nah, di sektor informal itu low-skill, lowpay,” kata CEO Lippo Group tersebut ketika berbincang dengan Manado Post ( Jawa Pos Group) di Sekolah Internasional Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, Banten.
Agar Indonesia lepas landas menjadi negara maju, mengasah SDM harus menjadi fokus. Putra sulung Chairman Lippo Group Mochtar Riady itu mengatakan, tenaga kerja tak terampil tersebut merata, baik di kota-kota maupun pedesaan. Itu tentu menjadi tantangan besar lantaran bangsa ini tak mungkin terus-menerus mengandalkan sumber dalam alam (SDA) mentah bernilai tambah rendah.
”Inilah pekerjaan utama para pemimpin bangsa ini untuk sepuluh tahun yang akan datang. Yakni fokus memperhatikan SDM ber- kualitas,” tutur pimpinan grup usaha yang merambah banyak sektor, mulai properti, industri keuangan, media, pendidikan, hingga kesehatan, tersebut.
Dengan SDM berkualitas, SDA mentah bisa diolah sehingga punya nilai tambah. Dia mencontohkan, semestinya Indonesia bisa menjadi basis industri makanan. Dengan populasi yang amat besar, tanpa ekspor pun, pasar domestik Indonesia amat menjanjikan.

Life Of Pie Yanti Kisah Dokter Penyelamat Harimau
Life Of Pie Yanti Kisah Dokter Penyelamat Harimau

Suami Aileen Hambali itu menambahkan, untuk mewujudkan basis industri, tentu saja dibutuhkan infrastruktur yang memadai. Listrik, air, serta bahan penunjang seperti semen dan baja perlu mendapatkan perhatian. Itu yang menjadi tugas pemerintah. ”Apakah di Indonesia ada sentra-sentra industri yang bebas dari birokrasi? Apakah cost industri itu bisa turun, khususnya listrik?” sentilnya.
Dengan pasar sebesar itu, otomatis manufacturing akan meningkatkan skalanya. Sebab, dasar globalisasi adalah kompetisi. Tabiat kompetisi adalah efisiensi. Dengan begitu, ekonomi biaya tinggi bisa ditekan dan ekonomi Indonesia akan berdaya saing.
Jika ekspor berbasis SDA yang bernilai tambah telah terwujud, Indonesia akan mampu mengekspor komoditas berbasis industri. Ke depan juga bukan tidak mungkin Indonesia bisa berjaya di bidang jasa seperti industri keuangan. ”Ini semua bisa karena negara kita besar,” tegas pria kelahiran 1957 itu.
Menurut pendiri dan chairman Yayasan Pendidikan Pelita Harapan tersebut, peran pemerintah amat besar dalam memajukan bisnis. Dia menyebut negara-negara seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok.
Untuk sepuluh tahun mendatang, James mengatakan, pemerintah perlu menyiapkan fondasi sejak sekarang. Menurut dia, tanda-tandanya mulai terlihat dengan kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berusaha memperbaiki infrastruktur seperti pelabuhan, bandara, jalan tol, listrik, daan air. Terobosan itu sangat membantu untuk melancarkan perdagangan.
Di mata James, Presiden Jokowi sudah melakukan gebrakan di berbagai sektor. Semuanya bergerak dinamis dan ini menjadi fondasi bagi Indonesia sepuluh tahun ke depan. Salah satu yang positif yang dilakukan Jokowi adalah membangun wilayah timur Indonesia seperti Papua.
”Orientasi beliau itu ke timur terus (Papua, Papua Barat, NTT, Sulawesi) dan ini semua adalah rangkaian bagian dari ekspresi kebijakan Pak Jokowi membangun daerah melalui pembangunan infrastruktur,” jelasnya.
Namun, James mengingatkan, sumber korupsi di negara ini lahir dari kebijakan yang salah. Semua kebijakan yang salah akan langsung berdampak pada masyarakat luas.
Misalnya, di bidang pertanian, ada subsidi bahan bakar untuk mereka yang punya mesin. Itu tentu tidak menyentuh petani. Semakin besar subsidi berarti banyak distorsi. Itu adalah pangkal pemborosan. ”Itu tidak mengembangkan infrastruktur di daerah dan salah satu kebijakan yang salah.” (Idham Malewa/JPG/c9/sof/jawapos.com)