Akibat Pacaran Mahasiswi Dihukum Cambuk

Akibat Pacaran Mahasiswi Dihukum Cambuk

1075
0
BAGIKAN KE
Akibat Pacaran Mahasiswi Dihukum Cambuk

Akibat Pacaran Mahasiswi Dihukum Cambuk

Nur Elita mengerang kesakitan saat batang rotan yang diayun algojo menimpa punggungnya dalam pelaksanaan eksekusi hukuman cambuk di muka umum di halaman Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, Senin (28/12).
BANDA ACEH – Senin, 28 Desember 2015, menjadi hari tak terlupakan bagi Nur Elita, 20. Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Banda Aceh itu jatuh pingsan setelah menjalani hukuman cambuk di halaman Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue, Meuraxa, Banda Aceh.
Rakyat Aceh ( Jawa Pos Group) melaporkan, setelah pembacaan amar putusan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Mahkamah Syariah Banda Aceh, Nur langsung dipanggil untuk menaiki panggung eksekusi. Terlihat ketegangan di wajahnya. Nur digiring dua polisi Wilayatul Hisbah (WH) perempuan ke atas panggung.
Tak kuasa menahan malu, di altar merah yang dikelilingi kain hitam, Nur mencoba menutupi wajah dengan tangan. Namun, karena dicambuk dengan posisi duduk bersimpuh, dia hanya bisa menunduk.
Satu per satu cambukan melayang menuju punggung perempuan muda itu. Saat cambukan pertama mendarat, Nur terlihat meringis. Ayunan rotan kedua ke bahunya sempat membuatnya memegang bahu sambil menahan sakit
Cambukan ketiga dan keempat mendarat di punggungnya, membuat Nur nyaris tersungkur.
Sementara itu, ratusan warga yang hadir untuk menyaksikan terus menyorakinya. Setelah cambukan kelima, Nur tak kuasa lagi menahan sakit. Dia langsung terkulai lemas dan jatuh pingsan di atas panggung. Petugas kesehatan dan polisi WH perempuan lantas membawa Nur ke dalam ambulans untuk pemeriksaan.
Kasi Penegakan Syariat Islam Satpol PP dan WH Banda Aceh Evendi A. Latif berdalih, Nur jatuh di panggung karena shock. ”Sebenarnya bukan pingsan, tapi lemas aja karena shock. Sudah tidak apaapa setelah diperiksa,” katanya.
Evendi menyebutkan, Mahkamah Syariah Banda Aceh Senin itu melaksanakan hukuman cambuk terhadap enam orang pelanggar Qanun Syariat Islam Nomor 13 Tahun 2003 tentang Maisir (perjudian) dan Qanun Nomor 14 tentang Khalwat (mesum). Proses eksekusi terhadap enam pelanggar itu disaksikan ratusan warga dan sejumlah wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh. Dari keenam terhukum, empat di antaranya merupakan pelaku maisir. Sedangkan dua lagi pasangan mesum.
Mereka yang terbukti bersalah dan melanggar ketentuan qanun tentang maisir adalah AMD, 50; KD, 50; YD, 45; dan MR, 43. Kata Evendi, keempatnya ditangkap tiga bulan lalu saat bermain domino di Gampong Asoe Nanggroe, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.
Sementara itu, si pasangan mesum adalah Nur Elita, 20, dan WS, 23. Nur adalah mahasiswi asal Kabupaten Simeulue. Dia menjadi satu-satunya perempuan yang dicambuk dalam kesempatan tersebut. ”Pasangan ini ditangkap warga di sebuah kos-kosan Gam- pong Keuramat, Banda Aceh, sebulan lalu, kemudian diserahkan ke polisi syariah dan diproses,” kata Evendi.

Akibat Pacaran Mahasiswi Dihukum Cambuk
Akibat Pacaran Mahasiswi Dihukum Cambuk

Berdasar surat keputusan Mahkamah Syariah Banda Aceh, pelaku maisir dicambuk enam kali. Namun, karena telah menjalani masa tahanan, hukuman dikurangi satu kali cambukan sehingga berjumlah lima kali. Begitu pula pelaku khalwat. Keduanya dicambuk lima kali setelah dikurangi potongan hukuman tiga kali cambuk.
Pesan Wakil Wali Kota Sementara itu, Wakil Wali Kota Banda Aceh Zainal Arifin mengatakan, Pemerintah Kota Banda Aceh cukup konsisten menjalankan syariat Islam sebagaimana diamanatkan dalam qanun. Menurut dia, hukuman cambuk merupakan sanksi pelanggaran syariat, bukanlah sebuah kegiatan hura-hura. Hukuman tersebut, jelas dia, merupakan pelajaran bagi siapa saja untuk tetap berperilaku sesuai dengan ketentuan Allah dan ajaran agama Islam.
”Apa yang kita saksikan ini mudah-mudahan tidak terjadi lagi ke depan. Dan hal ini semoga menjadi pelajaran bagi kita agar selalu berperilaku sesuai ajaran Islam,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Zainal juga mempertegas soal khalwat (mesum). Menurut dia, khalwat tidaklah semata-mata tertuju pada perbuatan zina. Penilaian akan hal itu, kata Zainal, hendaknya perlu menjadi perhatian. Sebab, jika salah menilai, orang yang mengatakan hal tersebut akan mendapat dosa setimpal dengan mereka yang melakukan perbuatan zina.
”Khalwat ini tidak berarti berzina. Sebab, belum tentu orang yang ditangkap sedang berdua-duaan itu melakukan zina. Jika tidak sanggup membuktikan sesuai dengan ketentuan Alquran, kita –orang yang menuding mereka berzina– akan mendapat dosa yang setimpal dengan orang yang berzina,” ingatnya.
Untuk itu, Zainal meminta masyarakat tetap menerima terpidana cambuk dengan baik, tidak mengucilkan mereka. ”Terimalah dan bimbinglah mereka. Mereka juga bagian dari kita, saudara kita, yang harus kita perhatikan,” tuturnya.
HAM Parsial Wakil Direktur Pusat Studi Konstitusi Hukum dan HAM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr Yayan Sopyan mengatakan, dalam melihat kasus hukum syariat cambuk di Provinsi Aceh, harus dilihat tiga aspek yang saling terkait. Yaitu terkait dengan khazanah fikih, konteks Provinsi Aceh yang mendapatkan kekhususan hukum, dan hak asasi manusia (HAM). ”Ada benang merah ketiganya,” kata dia.
Dalam khazanah fikih, pemberlakuan hukuman cambuk intinya adalah pemberian takzir ( ta’zir). Yang dimaksud dengan ta’zir adalah pemberian hukuman tambahan kepada pelaku kejahatan yang bisa menjadi racun masyarakat. Sehingga pemberian hukuman berupa cambuk itu bisa memberikan efek jera bagi si pelaku maupun masyarakat umum.