Hakekat Sang Nabi Hidir Alaihis Salam

Hakekat Sang Nabi Hidir Alaihis Salam

1309
0
BAGIKAN KE
Nabi Hidir

Hakekat Sang Nabi Hidir Alaihis Salam

Nabi ALLAH yang tidak membawa syariat hanya satu yaitu Nabi HIDIR Alaihissalam. Beliau diyakini ada meski tidak ada data dan saksi yang pernah menyaksikan ke–hidupan beliau. Nabi Hidir tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu. Nabi Hidir tidak memiliki apa-apa, karena itu Dialah si fakir miskin itu. Nabi Hidir tidak memiliki siapa-siapa, karena itu Dialah si yatim piatu itu. Meskipun ilmu dan kecerdasannya teramat sangat tinggi, tapi nabi Hidir tetap konsisten dan teguh pendirian bahwa Dia hanyalah seorang hamba TUHANnya.

Keberadaannya hanya disitir dalam Al Quran Surat Al Kahfi 65-85. Walaupun hanya sedikit Ilmu yang nabi Musa yang dengan kapasitasnya sebagai nabi pun tidak mampu menjangkau ilmu yang dimiliki oleh Nabi Khidir . Hal ini membuat ketinggian ilmu Nabi Khidir menjadi ilmu yang misterius.

Siapa yang tidak kenal dengan Nabi Khidir. Setiap orang, khususnya orang islam, pasti akrab dengan nama Khidir. Sesosok nabi yang nyentrik ajarannya dan cara penyampaiannya. Ajaran dan penyampaiannya terkadang membuat muridnya dibuat bertanya-tanya. Bahkan sekaliber Nabi Musa pun dibuat bertanya-tanya dengan tingkah laku Nabi Khidir. Cerita bergurunya Nabi Musa ke Nabi Khidir merupakan media Allah untuk menyadarkan Nabi Musa bahwa ada manusia yang lebih pintar dibanding dirinya.

Konon Nabi Musa pernah ditanya oleh umatnya tentang siapa manusia yang paling pintar di dunia ini. Spontan Nabi Musa mengatakan bahwa dirinyalah yang paling pintar. Sikapnya ini mendapat teguran Allah, Nabi Musa kemudian disuruh berguru kepada seseorang yang ilmunya jauh lebih tinggi dibanding dirinya. Allah menunjukkan dimana orang tersebut tinggal. Nabi Musa dapat menemui Nabi Khidir pada pertemuan dua buah lautan (jama’ al bahrain). Tandanya, apabila ia membawa ikan yang sudah masak, kemudian dengan percikan air ikan tersebut bisa hidup kembali, itulah tempat Nabi Khidir berada.

Singkat cerita, Nabi Musa berhasil bertemu dengan Nabi Khidir. Nabi Musa diterima sebagai murid tetapi sejak awal Nabi Khidir sudah mengatakan bahwa Nabi Musa tidak akan sanggup menjalani semua persyaratan yang diajukannya. Persyaratan itu tidak lain adalah Nabi Musa dilarang bertanya segala tindakan Nabi Khidir sampai ia sendiri menjelaskan kepada Nabi Musa. Nabi Musa pun menyanggupinya. Namun, tidak disangka-sangka tindak laku Nabi Khidir ternyata di luar dugaan dan mengundang Nabi Musa untuk bertanya dengan segala tindakan yang dilakukan sang guru. Merasa Nabi Musa tak sanggup menjalani persyaratan sebagai murid kemudian Nabi Khidir memutuskan berpisah dengan Nabi Musa setelah menjelaskan maksud dari tindakannya.

Bagi kita yang akrab dengan teori pembelajaran modern, dengan segala paradigmanya sebagai seorang pembelajar, apa yang dilakukan Nabi Musa merupakan hal yang wajar. Bahkan, sebagai seorang murid sudah selayaknya murid aktif bertanya kepada sang guru. Tetapi inilah kenyataannya, kenyataan antara Nabi Musa dan Nabi Khidir yang mewedar ilmu. Nabi Musa tak sanggup menangkap hikmah di balik kejadian. Nabi Musa tak bisa membaca “masa datang” kecuali “masa kini” yang dihadapi. Salahkah Nabi Musa? Jelas di sini tidak bisa dihukumi siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang jelas Nabi Musa sendiri telah melanggar perjanjian antara murid dan guru, bahasa kerennya sekarang melanggar kontrak belajar yang telah disepakati.