Ga ada Kata Terlambat, Mantan Model Ini Berjuang Lawan HIV/AIDS, Makin Rajin...

Ga ada Kata Terlambat, Mantan Model Ini Berjuang Lawan HIV/AIDS, Makin Rajin Beribadah

147
0
BAGIKAN KE
Ga ada Kata Terlambat, Mantan Model Ini Berjuang Lawan HIV/AIDS, Makin Rajin Beribadah

Ga ada Kata Terlambat, Mantan Model Ini Berjuang Lawan HIV/AIDS, Makin Rajin Beribadah

Tidak mudah menyandang status ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Penyakit yang menyerang kekebalan tubuh itu masih dianggap tabu oleh masyarakat. Penderitanya pun masih enggan terbuka. DIDIK (nama samaran), penderita HIV/AIDS asal Cerme, tidak menyangka bakal menjadi ODHA. Dia tidak memiliki perilaku seks menyimpang. Hanya, satu pengalaman manis sekaligus pahit yang pernah dialami.

Saat itu Januari 2005. Didik bergabung di salah satu agensi model di Semarang. Kala itu dia mengenal gadis cantik. Sebut saja namanya Rini. Mereka pun saling berkenalan. Secara perlahan, Didik dan Rini saling jatuh cinta.

Kemudian, mereka mengikuti lomba model di Jakarta. Sayangnya, Rini tidak lolos pada seleksi akhir. ’’Saya masuk enam besar. Rini tidak lolos dan harus kembali ke Surabaya,’’ ujarnya.

Karena sudah telanjur cinta, Didik menyusul Rini ke Surabaya pada 2008. Mereka menjalin hubungan cinta selama dua tahun. Namun, Didik merasa curiga dengan pekerjaan Rini. Dia kerap pulang larut. Pagi sampai siang banyak dihabiskan untuk istirahat. ’’Dia kerja di salah satu kelab malam. Akhirnya, saya meninggalkannya pada 2010,’’ tuturnya.

Sejak saat itu Didik tidak pernah bertemu dengan Rini. Komunikasi melalui pesan singkat pun tidak pernah dilakukan. Selain sakit hati, Didik takut tertular penyakit menular seksual (PMS).

Firasat buruk itu seolah menjadi kenyataan. Juli 2016 dia mengalami kondisi yang tidak biasa. Didik menderita diare yang berlebihan. Bahkan, tubuhnya sempat dehidrasi. Kesadarannya menurun selama hampir tiga hari.

Oleh keluarga, Didik dibawa ke Puskesmas Cerme. Dokter dan petugas puskesmas sudah curiga adanya virus HIV yang bersarang di tubuh Didik. Setelah dites darah, hasilnya positif HIV.

Mengetahui hal tersebut, Didik lantas dirujuk ke RSUD Ibnu Sina untuk mendapatkan terapi antiretroviral (ARV). Setelah siuman, Didik sempat shock dengan vonis HIV oleh dokter. ’’Sempat stres waktu itu,’’ katanya.

Meski begitu, dia memilih terbuka. Pihak keluarga sempat tidak percaya dengan kondisinya. Setelah dijelaskan, keluarga bisa menerima dan berharap yang terbaik.

Sejak saat itu Didik rutin menjalani terapi. Hampir setiap bulan pria berusia 33 tahun tersebut tidak pernah telat mengambil obat ARV di rumah sakit. Petugas puskesmas pun selalu memantau kondisinya.

Didik mengatakan, tidak mudah menerima kenyataan menjadi ODHA. Namun, kondisi itu tidak berarti menjadikannya minder. ’’Harus bisa menjadi lebih baik lagi. Lebih-lebih semakin mendekatkan diri ke Yang Mahakuasa,’’ ungkapnya.

Sejak divonis menjadi ODHA, Didik semakin rajin ke masjid. Hampir setiap hari dia salat berjamaah. ’’Banyak tetangga yang kagum,’’ ucap Supriyanto, penanggung jawab program HIV/AIDS Puskesmas Cerme.

Supriyanto menyebutkan, Didik termasuk orang yang disiplin dan kooperatif. Hal itu memudahkan pendampingan oleh petugas. Sebab, tidak sedikit warga yang beranggapan bahwa penyakit HIV/AIDS merupakan sebuah aib yang harus dijauhi.

Menurut Supriyanto, anggapan itu kurang tepat. Penderita HIV/AIDS sebaiknya diberi dukungan moral untuk menjalani pengobatan. Mereka yang rajin minum obat bisa hidup normal seperti yang sehat. ’’Stigma negatif itu sebaiknya dihilangkan,’’ paparnya. (jawapos.com)