Kitab Peninggalan Nabi Nabi Terdahulu Yang Tidak Diketahui Banyak Orang

Kitab Peninggalan Nabi Nabi Terdahulu Yang Tidak Diketahui Banyak Orang

4870
1
BAGIKAN KE

Kitab Peninggalan Nabi Nabi Terdahulu Yang Tidak Diketahui Banyak Orang

Wahai saudaraku. Semasa hidupnya dulu, selain menerima wahyu Tuhan dalam kitab suci, di antara para Nabi juga menuliskan sebuah kitab ilmu pengetahuan untuk bekal hidup banyak orang. Hal ini beliau lakukan atas dasar petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tujuannya, agar umat manusia bisa menjalani hidupnya dengan kebaikan dan kesejahteraan.

Di antara kitab ilmu pengetahuan yang termahsyur adalah yang pernah dituliskan oleh Nabi Syish AS, Nabi Nuh AS dan Nabi Sulaiman AS. Kitab yang beliau-beliau itu tuliskan sangat luas ilmunya, mencakupi berbagai seluk beluk kebutuhan manusia dan telah terbukti mampu menjadi penyebab utama bangkitnya peradaban yang besar. Lalu dari zaman ke zaman, kitab-kitab itu sering berpindah tangan di antara orang yang berhak. Demikian seterusnya, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Berikut ini kami jelaskan sedikit tentang tiga buah kitab kuno yang pernah ada – bahkan masih ada – yang pernah di tulis oleh para Nabi. Di antaranya yaitu:

1. Kitab Natakawa (Kitab ilmu pengetahuan Nabi Syish AS)
Kitab ini bukanlah sebuah kitab wahyu yang suci, tetapi sebuah kitab yang isinya merupakan kumpulan dari beberapa aturan yang terbaik dan pernah diterapkan pada peradaban besar di masa lalu. Jadi, bila ada sebuah peradaban kaum yang terbesar, khususnya sejak periode zaman Purwa Naga-Ra (zaman kedua manusia), maka di ambillah sebagian aturan atau sistem yang terbaik untuk dikumpulkan di dalam satu jilid buku. Yang kemudian atas petunjuk-Nya pula, maka kitab ini lalu diberi nama Natakawa. Yang artinya:

Nata = memperlihatkan
Kawa = aturan yang jelas

Jadi, Natakawa itu berarti memperlihatkan aturan hidup yang jelas.

Orang yang menuliskan kitab ini adalah Nabi Syish AS. Beliau ini hidup sejak periode zaman Purwa Duksina-Ra(zaman pertama manusia). Suatu ketika sebagai seorang Nabi, beliau mendapat petunjuk dari Tuhan untuk menjalankan tugas untuk mengumpulkan beberapa aturan dan sistem yang terbaik, yang ada di berbagai zaman dan bangsa di dunia. Atas kehendak Tuhan, beliau mendapatkan anugerah untuk bisa hidup di setiap zaman manusia. Karena itulah, dimana pun  terdapat satu peradaban besar, yang di dalamnya terdapat kemakmuran dan kemuliaan, maka disanalah beliau harus mengambil sebagian contoh aturan atau sistem yang terbaik untuk kemudian di kumpulkan ke dalam satu buku. Sebagai contoh, ada lima kaum terbesar yang pernah beliau kunjungi, yaitu:

1) Kaum Gulawita: Kaum ini hidup pada pertengahan periode zaman Purwa Naga-Ra (zaman kedua manusia). Mereka dulunya tinggal di sebuah wilayah yang sekarang dikenal dengan daratan China bagian selatan. Pada kaum ini beliau mengambil contoh tentang aturan dalam perekonomian dan perdagangan.

2) Kaum Asputara: Kaum ini hidup pada akhir periode zaman Purwa Naga-Ra (zaman kedua manusia). Mereka dulunya tinggal di sebuah wilayah yang sekarang lebih dikenal dengan Russia. Pada kaum ini beliau mengambil contoh tentang ketatanegaraan.

3) Kaum Wartaya: Kaum ini hidup pada awal periode zaman Dirganta-Ra (zaman ketiga manusia). Mereka dulunya tinggal di antara ujung barat pulau Sumatera dan Srilanka, atau sebuah perairan yang kini dikenal dengan Samudera Hindia. Pada kaum ini beliau mengambil contoh tentang aturan dalam kehidupan sosial.

4) Kaum Aryamaka: Kaum ini hidup pada pertengahan periode zaman Dirganta-Ra (zaman ketiga manusia). Mereka dulunya tinggal di sebuah wilayah di Nusantara, tepatnya di pulau Jawa. Pada kaum ini beliau mengambil contoh tentang nilai-nilai kekeluargaan.

5) Kaum Hugartal: Kaum ini hidup pada akhir periode zaman Dirganta-Ra (zaman ketiga manusia). Mereka dulunya tinggal di sekitar wilayah pegunungan Alpen yang ada di Eropa barat sekarang. Pada kaum ini beliau mengambil contoh tentang teknologi maju.

Demikianlah sebagian contoh bagaimana Nabi Syish AS bisa mengumpulkan aturan dan sistem yang terbaik. Dan tidak hanya terbatas di ke empat kaum di atas, karena sebenarnya pada semua benua yang ada di dunia ini. Jadi, dimana pun terdapat kaum yang berhasil dalam membangun peradaban yang terbesar di zamannya, entah di benua Asia, Afrika, Eropa, Amerika atau Australia, maka beliau akan tetap mendatanginya untuk bisa mengambil aturan yang terbaik disana. Yang kemudian disatukan dengan aturan dan sistem yang telah dikumpulkan sebelumnya ke dalam sebuah kitab.

  • utomo rachmadi

    Copy paste y mas