Gara-gara Bom Jakarta Pemerintah Percepat Revisi UU Terorisme

Gara-gara Bom Jakarta Pemerintah Percepat Revisi UU Terorisme

420
0
BAGIKAN KE
Gara-gara Bom Jakarta Pemerintah Percepat Revisi UU Terorisme

Gara gara Bom Jakarta Pemerintah Percepat Revisi UU Terorisme

JAKARTA – Pemerintah akan mempercepat revisi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagai langkah pencegahan aksi teror. Solusi itu dinilai lebih mendasar daripada mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu)
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan sudah berbicara dengan presiden serta menteri hukum dan HAM untuk mempercepat revisi tersebut. ”Sebab, dengan revisi itu, kan diberikan kelonggaran kepada aparat keamanan untuk tindakan pencegahan itu bisa lebih baik,” kata Luhut di kompleks istana kepresidenan kemarin (18/1).
Luhut menjelaskan, revisi UU Terorisme terutama meliputi aturan mengenai kewenangan untuk menangkap terduga pelaku teror. Selama ini kepolisian kesulitan untuk menangkap terduga teroris karena belum memiliki cukup bukti. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menurut dia, sedang menyusun rancangan revisi UU Terorisme tersebut. ”Tahun ini harus bisa selesai dengan cepat,” tegasnya.
Selain merevisi UU Terorisme, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk merevisi UU Intelijen guna mencegah tindak pidana terorisme. ”Sangat layak dipertimbangkan. Kan kita lihat ketentuan umumnya, bisa menahan sepuluh hari, kemudian bisa dilepas, ya kenapa tidak?” ujar Luhut. Sebelumnya Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatakan, UU Intelijen harus direvisi untuk memudahkan penangkapan pelaku teror.
Luhut mengakui, ada sejumlah pihak yang berpendapat bahwa itu tidak menyelesaikan masalah. ”Tapi, paling tidak hal itu akan memperkuat intelijen untuk mendapatkan data guna mempersempit ruang gerak upaya teror,” tuturnya.
Disinggung soal usul sejumlah pihak di parlemen agar pemerintah lebih baik mengeluarkan perppu daripada mengambil jalan panjang revisi UU, Luhut mengelak. ”Saya kira tidak perlu (perppu). Yang penting kami sudah bicara untuk mempercepat itu,” tuturnya.
Dari parlemen, dorongan revisi UU Terorisme juga muncul.

Gara-gara Bom Jakarta Pemerintah Percepat Revisi UU Terorisme
Gara-gara Bom Jakarta Pemerintah Percepat Revisi UU Terorisme

Menurut Ketua DPR Ade Komarudin, harus ada perbaikan terhadap UU Terorisme supaya dapat memberantas kejahatan itu dalam arti sesungguhnya. ”Apakah nanti amandemen, nanti kita bisa minta presiden keluarkan perppu,” kata dia.
Ade menuturkan, penegak hukum perlu diberi kewenangan untuk memberantas terorisme. Namun, tentu pemberantasan tersebut tidak boleh melanggar hak asasi manusia. Soal seperti apa revisi yang dimaksud, Ade menilai hal itu perlu pembahasan mendalam. ”Saya akan bicarakan dengan seluruh pimpinan fraksi,” ujarnya.
Kejadian bom di Sarinah, tegas Ade, tidak boleh terjadi lagi pada masa mendatang. Selain aspek hukum, aspek teknis dan prosedur pemberantasan terorisme perlu perhatian khusus. ”Ini tidak boleh terjadi lagi di masa yang akan datang. Masyarakat nonton (proses penembakan, Red). Bayangin, ada yang ngejar teroris, tapi (masyarakat) ber- selfie ria. Agar dibikin SOP-nya,” tandas Ade.
Perburuan Teroris Dari perkembangan perburuan jaringan kelompok teroris kawasan M.H. Thamrin-Sarinah, Polri mengumumkan sudah menangkap 14 orang. Namun, yang dipastikan terkait langsung dengan aksi teror 14 Januari lalu hanya delapan orang. Delapan orang itu berasal dari Cirebon, Indramayu, Balikpapan, dan Tegal.
”Sebelumnya ada yang ditangkap di Bekasi, tapi tidak terkait langsung,” ujar Kadivhumas Polri Irjen Anton Charliyan. Dia menjelaskan, Polri berusaha mengetahui apakah para terduga pelaku juga terlibat dalam rangkaian aksi teror lainnya. ”Jadi, tidak hanya soal Sarinah, semua masih dikembangkan,” tuturnya.
Sumber internal Polri menyebutkan bahwa salah seorang yang ditangkap bernama Fajrin. Dia ditangkap di Balikpapan. Perannya cukup penting dalam aksi teror Plaza Sarinah, yakni ahli perakit bom. ”Dia belajar merakit bom saat di Poso,” ujar sumber tersebut.
Ilmu merakit bom itu kemudian diajarkan kepada Dian Juni Kurniadi, salah seorang pelaku teror di Thamrin yang tewas. ”Ya, ini semacam guru merakit bom untuk para pelaku,” paparnya ketika ditemui kemarin.
Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai suara rekaman Bahrun Naim yang menegaskan tidak terkait dengan pengeboman Plaza Sarinah, Anton Charliyan menuturkan bahwa pihaknya sedang menganalisis rekaman tersebut asli atau tidak. ”Bisa saja itu bukan Bahrun Naim,” paparnya.
Untuk menganalisis suara tersebut, Polri akan berupaya mendapatkan pembanding dari suara Bahrun Naim. Sangat mungkin suara rekaman Bahrun Naim saat di persidangan atas kasus kepemilikan 579 peluru beberapa tahun lalu. ”Dibandingkan dan dilihat apakah sama atau tidak,” jelasnya.
Dia menegaskan bahwa Polri terus berupaya merangkai se- mua kasus pengeboman tersebut. Rangkaian itu berupa siapa saja yang terlibat dan kelompok mana saja.
Meski seluruh teroris dalam aksi peledekan bom Thamrin telah tewas, petugas kepolisian terus memburu otak di balik peristiwa maut tersebut. Polisi mencurigai, otak pelaku tersebut adalah Bahrun Naim.
Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Muhammad Iqbal mengatakan, meski pihak keluarga Bahrun Naim membantah keterlibatan dalam aksi ledakan bom Thamrin, polisi tidak goyah untuk memercayai dan meloloskan Naim dari jeratan hukum.( dyn/ owi/bay/idr/ian/c9/c10/kim/jawapos.com)