Evaluasi 1 Tahun Pemerintahan Jokowi

Evaluasi 1 Tahun Pemerintahan Jokowi

423
0
BAGIKAN KE
jokowi

jokowiEvaluasi 1 Tahun Pemerintahan Jokowi: HUKUM MENGECEWAKAN, EKONOMI MENJANJIKAN

DI antara semua sektor penting di pemerintahan, sektor hukum adalah titik paling lemah dari kinerja pemerintahan Joko Widodo ( Jokowi)-Jusuf Kalla ( JK) selama satu tahun

’’Kebetulan, kami memang ada rapat dengan relawan inti untuk membahas beberapa cara menyebarkan website kami,’’ ujar Direktur Indorelawan Marsya Angia Nashahta saat bertemu dengan Jawa Pos.

Besok, 20 Oktober 2015, pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla tepat setahun diambil sumpah sebagai presiden dan wakil presiden RI. Dalam perjalanan singkat itu, ada beberapa hal yang sudah dicapai dan beberapa hal juga yang mendesak untuk diperbaiki.

Saat itu jumlah peserta rapat memang bisa dihitung dengan jari. Hanya enam. Namun, jangan sekali-sekali memandang sebelah mata organisasi tersebut.

Seperti pepatah, kecil-kecil cabai rawit, website yang baru di- launching pada Februari 2014 itu punya skala besar. Sebut saja, 138 organisasi menjadi mitra dan 3.400 relawan sudah terdaftar di laman resminya.

Sejak tahun lalu, mereka sudah menyebarkan 551 relawan untuk 189 aktivitas. Belum lagi, ada 45 aktivitas yang butuh relawan dalam waktu dekat. Angka-angka tersebut boleh dibilang ciamik, mengingat kegiatan yang butuh relawan 90 persen hanya di Jakarta.

Marsya menjelaskan, sejak awal pihaknya memang memilih konsep organisasi ramping dengan skala besar. Tim operasionalnya hanya tiga orang.

’’Jika digabungkan dengan relawan tetap, total anggota LSM kami hanya 28 orang. Dengan semua sumber daya, kami harus melayani 300–400 relawan yang mendaftar ke suatu aktivitas,’’ ujar Marsya.

Bagaimana caranya? Volunteer Activation Manager Indorelawan Maritta Rastuti menjelaskan, Indorelawan memang menyiapkan sistem platform tersendiri. Sistem tersebut bisa membuat mitra organisasi lebih aktif dalam mengurus pendaftaran para relawan.

Mulai tahap awal, brifing, saat kegiatan, sampai laporan setelah kegiatan. Dengan demikian, tim operasional dan anggota lain bisa lebih fokus dalam mengelola laman dan melakukan marketing.

’’Dengan sistem itu, organisasi bisa melihat sendiri pendaftar relawan dan memilih mereka sendiri. Sedangkan kami akan mengawasi agar aktivitas tersebut bisa berjalan lancar dengan relawan yang tercatat di sistem kami,’’ ujarnya.

Masrya pun menjelaskan, bentuk-bentuk bantuan relawan bukan sekadar tenaga kasar. Dia tak menampik, masyarakat sering menganggap bahwa relawan hanyalah orang yang membantu pekerjaan sederhana.

Mulai bersih-bersih atau membantu korban bencana. Namun, banyak keahlian yang sebenarnya bisa disumbangkan untuk kebaikan.

’’Permintaan bantuan ke kami itu beragam, bukan hanya tenaga kasar. Mulai fotografer, business coach, motivator, sampai penulis. Dan, hal tersebut lebih mudah karena kami terbuka kepada seluruh elemen masyarakat, termasuk para profesional di bidangnya,’’ jelasnya.

Dia pun menceritakan salah satu kasus yang cukup unik. Suatu saat, Yayasan Kebun Raya Bogor membutuhkan tenaga untuk menata 5 ribu meter persegi. Dia akhirnya mengunggah permintaan relawan arsitek landscape. Padahal, jasa seperti itu bisa menghabiskan biaya puluhan juta rupiah.

’’Awalnya, kami pikir akan susah untuk mendapatkan bantuan tersebut. Tapi, ternyata ada juga anggota-anggota yang mendaftar dan rela menyumbangkan keahliannya,’’ ujarnya.

Memang, lanjut dia, motivasi dari relawanrelawan tak selalu murni dari kepedulian sosial. Ada yang ingin mendongkrak portofolio, diajak teman, atau sekadar narsis.

Namun, motivasi seperti itu sah-sah saja dalam dunia relawan. Sebab, hal tersebut juga menjadi hak bagi orang yang menyalurkan tenaganya tanpa imbalan yang layak.

’’Kalau yang tanya-tanya ke sini, memang biasanya tanya suvenir. Saat kami tanya balik, ternyata dia mau foto-foto suvenir dan diupload di akun media sosial mereka. Tapi, kenapa tidak? Asal mereka memang benarbenar datang dan membantu,’’ ungkapnya.

Kesuksesan Indorelawan tak dicapai dengan mudah. Salah satu pendiri Indorelawan, Widharmika Agung, menyatakan, perjalanan menuju lahirnya LSM tersebut penuh pasang surut.

Idenya muncul setelah Widhar menyelesaikan pendidikan di Harvard Kennedy School, Amerika Serikat (AS). ’’Dulu istri saya ikut ke AS saat saya kuliah. Karena nganggur, dia akhirnya ikut jadi relawan dengan mendaftar di situs-situs penyalur relawan. Mulai pekerja donor darah sampai membantu pasien Indonesia di rumah sakit di sana,’’ katanya.

Saat kembali ke Indonesia pada 2010, dia pun sempat menjajal beberapa kegiatan sosial karena tertular istri. Dari sana, dia penasaran. Mengapa dunia relawan diisi orang yang itu-itu saja? Seakan-akan dunia relawan tak bisa dihubungkan dengan karyawan-karyawan profesional.

Pada 2013, Widhar akhirnya membentuk komunitas Indorelawan dengan tiga kawan lainnya. Modalnya sederhana, hanya akun Facebook dan milis. Prosesnya benar-benar dilakukan secara manual. Karena itu, pengurus Indorelawan harus rajin-rajin menelepon para relawan dan organisasi terkait dengan kegiatan.