Terungkap Bisnis SMS Penipuan Mama Minta Pulsa Raup Keuntungan 7 Juta Perhari

Terungkap Bisnis SMS Penipuan Mama Minta Pulsa Raup Keuntungan 7 Juta Perhari

789
0
BAGIKAN KE
Terungkap Bisnis SMS Penipuan Mama Minta Pulsa Raup Keuntungan 7 Juta Perhari

Terungkap Bisnis SMS Penipuan Mama Minta Pulsa Raup Keuntungan 7 Juta Perhari

JAKARTA – Apakah Anda pernah mendapat pesan singkat alias short message service (SMS) rayuan atau permintaan akan sesuatu? Bisa jadi salah satu nadanya ”Mama minta pulsa…” atau ”Anda memenangkan hadiah…” atau banyak lagi kalimat rayuan agar penerimanya merasa iba atau tertarik.
Nah, bisa jadi salah satu dari SMS rayuan yang bisa berujung penipuan itu berasal dari sindikat penipu yang dipimpin Efendi alias Lekeng ini. Dengan lima anak buahnya, setiap hari Efendi menyebar SMS ke 6.000 nomor
Dari ribuan SMS tersebut, ada saja yang nyantol atau direspons pemilik nomor. Dari para korban itulah Efendi mempraktikkan jurus tipuannya agar mentransfer sejumlah uang sehingga rata-rata meraup Rp 7 juta sekali sebar.
Pekan lalu aksi tipu-tipu geng Efendi tersebut berakhir. Polisi berhasil meringkus anak buah Efendi yang sedang beroperasi di Lembang, Kabupaten Bandung. Kemudian, dari informasi mereka, polisi hanya butuh waktu dua hari untuk membekuk Efendi yang kebetulan hendak kabur di jalan trans-Sulawesi Selasa (3/11). Untuk efektivitas pemeriksaan, kemarin (6/11) Efendi dikeler ke Mapolda Metro Jaya dan tiba pukul 11.00. Pria berkulit putih tersebut kemudian langsung digelandang ke ruang penyidik.
Seusai pemeriksaan, dengan tangan terborgol, Efendi menjawab pertanyaan wartawan sekenanya. Sesekali dia tersenyum menyeringai. Dari penampilan dan gerak-geriknya, tidak ada kesan bahwa Efendi adalah pelaku kejahatan kelas kakap. Dia bisa disebut sebagai otak penipuan yang sudah lama meresahkan masyarakat itu.
Kisah penipuan pria 36 tahun tersebut berakhir di tangan anggota Unit II Subditjatanras Polda Metro Jaya. Itu terjadi setelah petugas meringkus lima anak buahnya di sebuah rumah kontrakan di Lembang Jumat pekan lalu (30/10). Mereka adalah Ibnu Hajar, Haidar, Krisna, Jafar, dan Tajudin. Semuanya warga Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel). Dari mulut merekalah polisi berhasil melacak jejak Efendi, si bos.
Efendi yang sedang pulang ke kampung istri di Wajo sebelumnya tak menyadari masuk buruan polisi. ”Soalnya, saya pulang itu betul-betul karena nenek istri meninggal dunia,” ucap Efendi. Dia baru sadar setelah ada teman yang memberikan informasi bahwa anak buahnya tertangkap. ”Saya makin yakin saat melihat mereka dari TV,” ujarnya. Karena itu, Efendi mulai merencanakan kabur. Dia lantas menyewa mobil selama dua minggu. ”Langsung parno dengar anak buah tertangkap.”
Benar saja, polisi melakukan pengejaran ke Sulsel. Tidak mudah menangkap Efendi. Saat mencari pelaku di rumah, kondisinya kosong. Begitu juga halnya di rumah nenek istrinya. Namun, polisi terus mengejar pelaku, salah satunya dengan operasi razia di jalanjalan. Hasilnya, Selasa lalu pelaku bisa dibekuk saat melintas di jalur trans-Sulawesi, Malili. Saat itu pelaku bersama istri dan anaknya hendak menuju Kolaka, rumah ibunya. ”Memang sudah niat kabur. Tahu polisi lagi mengejar.”
Wajo bersebelahan dengan Kota Sidrap. Ya, berdasar penyelidikan polisi, dari kota itu banyak berasal pelaku penipuan SMS. Sampai ada candaan di kampung, tersangka orang kaya cuma tiga. Kalau tidak bertani, bisnis narkoba, ya tipu-tipu. ” Bener kan begitu?” ujar penyidik menanyakan candaan tersebut. ”Ya, Pak,” jawab Efendi sambil tersenyum.
Rumah Efendi di Desa Lautang, Belawa, Wajo, memang berdiri megah – berbentuk panggung– di atas lahan 600 meter persegi. Menurut dia, rumah itu sebenarnya milik mertuanya. Namun, dia yang memperbaiki. Mertuanya tinggal di atas, sedangkan keluarga Efendi tinggal di bawah. Sebagian besar bahan rumah tersebut adalah kayu jati. Efendi mengakui bahwa uang itu hasil dari tipu-tipu. ”Sudah habis Rp 200 juta,” ujarnya. Efendi menambahkan bahwa selama ini keluarganya tahu dirinya pergi ke Jawa untuk melancarkan aksi tipu-tipu lewat SMS.
Efendi yang hanya bersekolah sampai kelas VII SMP belum pernah bekerja. Saat tidak bersekolah, dia bertani membantu orang tua. Nah, menginjak remaja, Efendi baru bergabung dengan sindikat tipu-tipu. Setelah merasa cukup, dia menjadi bosnya. ”Sudah dua tahun terakhir ini,” akunya.
Gara-gara uang haram itu, pelaku pernah gagal berumah tangga. Istri pertamanya menuntut cerai setelah tahu pekerjaan Efendi sebagai penipu. Sebelum ditangkap, Efendi memiliki lima anak buah. Beberapa di antara mereka adalah kerabat dekatnya seperti sepupunya. Sebelum menetap di Lembang sebagai tempat penipuan, dia pernah juga tinggal di Sukabumi dan Bogor. ”Kalau kerja dari sana (Sulawesi) gak bisa, sinyalnya jelek. Terus di sini enak saja tempatnya. Adem,” ujarnya.
Terkait jaringan penipu lain yang ditangkap di Cianjur, Efendi meng- ungkapkan, mereka bukan anak buahnya. Tetapi, gengnya saling kenal dengan mereka. Efendi merekrut anak buah kebanyakan dari orang satu kampung. Tidak semua anak buah sama. Kata dia, ada yang otaknya encer dan yang tidak. Jika pintar, si anak buah tidak butuh banyak waktu untuk diajari melakukan penipuan. ”Setelah itu saya hanya mengawasi anak-anak.”
Setiap hari Efendi mengawasi kerja anak buah yang biasanya dilakukan malam. Anak buahnya mendapat tugas masing-masing. Ada yang menyebar pesan penipuan dengan SMS caster untuk mendapat nomor calon korban. Sehari sedikitnya 6 ribu SMS disebar. Dari jumlah tersebut, ada saja yang tertipu.
Bentuk penipuannya bukan hanya mama minta pulsa. Yang juga sering dia pakai adalah tolong transfer ke nomor ini dan meminta menghubungi nomor yang tertera. ”Acak saja ke siapa saja. Biasanya kalau yang telepon seperti terhipnotis. Tapi, kami tidak ada yang bisa hipnotis. Terus, anak-anak yang arahin nanti untuk mengirim uang,” ceritanya.
Untuk buku tabungan, Efendi memesan dari seseorang di Jakarta Selatan. Harganya Rp 600 ribu sampai Rp 850 ribu dengan saldo Rp 50 ribu per rekening. ”Saya tahu jadi saja,” ujarnya. Setiap hari gengnya rata-rata mendapat Rp 7 juta. Dari hasil tersebut, 25 persen dibagi untuk anak buahnya, 7 persen untuk pengambil uang, dan sisanya masuk kantong sendiri. (yuz/ilo/c9/kim/jawapos.com)