Jokowi Awasi Penyidikan Pembunuhan Aktivis Antitambang

Jokowi Awasi Penyidikan Pembunuhan Aktivis Antitambang

475
0
BAGIKAN KE

Presiden Jokowi Awasi Penyidikan Pembunuhan Aktivis Antitambang Wawancara dengan Hariyono, Kepala Desa Selok Awar-Awar

Izin Tambang Harus Dibekukan
JAKARTA – Penyelesaian kasus pembunuhan sadis terhadap Salim Kancil, 46, aktivis penolak tambang di Lumajang, Jawa Timur, harus sampai ke akar-akarnya. Selain mengusut tuntas pelaku pembunuhan melalui ranah pidana, kewenangan pemda menerbitkan izin tambang di Lumajang harus dibekukan
Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan menegaskan, semua pihak harus memahami bahwa tidak boleh ada masyarakat atau kelompok masyarakat yang dikorbankan dengan atas nama apa pun, termasuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Apalagi hingga berujung pada penghilangan nyawa.
’’Itu nggak boleh. Jadi, perlu dihold proses penggaliannya. Kalau cuma penyelesaian kriminal, itu hanya akan menyentuh akibatnya,’’ tegasnya di kompleks istana kepresidenan, Jakarta, kemarin (29/9).
Langkah tersebut, menurut Ferry, mirip dengan sikap pemerintah dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera serta Kalimantan saat ini.
Yaitu, tidak cukup hanya menangkap para pelaku pembakaran di lapangan yang notabene merupakan warga biasa. Namun, perusahaan-perusahaan yang terkait dengan timbulnya kebakaran tersebut perlu pula dicari dan diberi sanksi. ’’Karena itu, menurut saya, nggak usah ragu-ragu untuk menutup. Setidaknya di- hold dulu saja,’’ katanya.
Sebagaimana diberitakan, Sabtu (26/9) sekitar pukul 06.30, terjadi penganiayaan dan pembunuhan sadis terhadap petani penolak tambang pasir di Desa Selok Awar-Awar, Pasirian, Lumajang, Jawa Timur. Salim atau yang biasa dipanggil Kancil tewas dibunuh.
Aksi premanisme juga dialami penentang aktivitas tambang lainnya, Tosan. Seperti Salim, Tosan dihajar beramai-ramai di dekat rumahnya. Namun, Tosan selamat karena dikira sudah meninggal ketika dianiaya. Beberapa warga berhasil menyelamatkan dan langsung membawanya ke rumah sakit.
Dua aksi biadab itu diduga dipicu penolakan Salim dan Tosan terhadap penambangan di Pantai Watu Pecak yang disponsori Kepala Desa Selok Awar-Awar Hariyono. Pengerukan pasir besarbesaran itu membuat akses ke ladang dan pantai rusak berat. Keduanya pun menggalang dukungan dengan mengadakan demo beberapa jam sebelum mereka dianiaya.
Nasib malang Salim dan Tosan itu menyedot perhatian dari Presiden Joko Widodo. Presiden sudah meminta Kapolri Jenderal Badrodin Haiti turut memastikan bahwa pelaku diusut tuntas.
Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Teten Masduki mengungkapkan, presiden sangat menyayangkan peristiwa itu. ’’Kami di kantor KSP juga akan ikut terus memantau penyelesaiannya,’’ tegasnya di kompleks istana kepresidenan, Jakarta, kemarin.
Kades Tersangka Bagaimana perkembangan pengusutan polisi terhadap para tersangka? Jawa Pos Radar Semeru melaporkan, Kades Selok AwarAwar, Pasirian, Lumajang, Hariyono tampaknya harus mendekam di penjara. Namun, penyebabnya bukan kasus pembunuhan dan penganiayaan, melainkan kasus penambangan pasir liar di Watu Pecak, Selok Awar-Awar. Sebab, hingga kemarin, petugas belum bisa menemukan bukti keterkaitan Hariyono dengan peristiwa berdarah tersebut.
Menurut informasi yang dihimpun Jawa Pos, Hariyono ditetapkan sebagai tersangka tadi malam. Namun, penetapan status Kades itu bakal diumumkan pagi ini. ’’Kami masih melakukan gelar perkara. Tetapi, arahnya ke sana,’’ ucap sumber di internal kepolisian. Menurut dia, bukti-bukti yang sudah cukup kuat baru didapat untuk kasus penambangan pasir liar.
Di bagian lain, aparat kemarin mengadakan rekonstruksi agar penyidikan kasus tersebut terang. Rekonstruksi dilakukan di Stadion Semeru, Lumajang, dengan alasan keamanan. Ada 22 orang dalam barisan yang digelandang aparat Polres Lumajang yang dibantu satu kompi Brimob Polda Jatim. Dua di antara mereka ternyata masih di bawah umur.
Rekonstruksi itu dilakukan secara tertutup. Wartawan pun tidak bisa meliput dan mengambil gambar. Salah seorang pegawai Kemenpora yang berusaha mengambil gambar juga dimarahi polisi.