Ekonomi Tahun Depan Diyakini Membaik

Ekonomi Tahun Depan Diyakini Membaik

117
0
BAGIKAN KE
Tahun Depan Ekonomi Diyakini Membaik

Tahun Depan Ekonomi Diyakini Membaik

Ekonomi – Bank Indonesia (BI) belum berencana menurunkan suku bunga acuan (BI rate) dalam waktu dekat. Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengungkapkan bahwa bank sentral masih mempertahankan BI di level 7,5 persen. Kebijakan itu diambil lantaran belum stabilnya situasi global yang memengaruhi gejolak perekonomian nasional.

Meski mendapat desakan dari berbagai pihak, otoritas moneter tersebut konsisten mempertahankan BI rate di level 7,5 persen selama 8 bulan sejak Februari 2015. ’’Itu yang selalu dipertanyakan masyarakat maupun pelaku usaha. Jadi, kita sedang menghadapi situasi di mana suku bunga AS meningkat serta ada arus modal keluar dari emerging market, termasuk Indonesia. Jika kemudian BI rate turun saat permintaan dolar tinggi, yang terjadi adalah konversi ke dolar lebih banyak,’’ katanya di Jakarta kemarin (30/9).

Tahun Depan Ekonomi Diyakini Membaik
Tahun Depan Ekonomi Diyakini Membaik

Walau BI rate diturunkan, lanjut dia, belum tentu suku bunga kredit perbankan juga anjlok. (baca Rupiah Menguat)Sebab, perbankan lebih memilih menaikkan suku bunga deposito rupiah agar nasabah tidak melakukan konversi mata uang rupiah ke dolar AS. ’’Dengan begitu, harapan teman-teman pengusaha jika BI rate turun, lalu diikuti suku bunga kredit tidak akan terjadi,’’ ujar dia.

Suku bunga acuan hanya diturunkan bila kondisi ekonomi global dan dalam negeri serta kurs rupiah stabil. ’’Tolong bisa dimengerti teman-teman pengusaha, teman-teman politisi. BI pasti memperhatikan pertumbuhan ekonomi,’’ tuturnya.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis kondisi ke depan lebih cerah. Buktinya terlihat dari beberapa indikator ekonomi seperti inflasi. BI meyakini, target inflasi 4 persen plus minus 1 persen akan tercapai. Berdasar survei BI pada pekan keempat September, inflasi berada di posisi 0,04 persen dan 6,9 persen (yoy). Kemudian, inflasi akhir tahun mencapai 4,3 persen dan tahun depan 4,7 persen. Sementara itu, current account deficit (CAD) bisa turun ke level 2,2 persen.

’’Kalau lihat fundamental itu, tentu nilai tukar rupiah lebih rendah daripada pasar. Hitungan kami pada kuartal III Rp 13.300, lalu kuartal IV Rp 13.700. Itu rata-rata hitungan fundamentalnya,’’ jelas Perry. Agar pergerakan nilai tukar rupiah dapat dikendalikan dan tidak terlampau melemah, BI melakukan berbagai intervensi maupun kebijakan. Tujuannya, mengendalikan permintaan dan menambah suplai dolar AS.

’’Dalam beberapa kesempatan, BI memandang rupiah sudah undervalue. Salah satu faktor penyebab melemahnya rupiahituadagapdi spot maupun forward. Kita perlu melakukan intervensi di spot dan forward untukmengurangi supply demand gap ini,’’ terangnya.

Tahun depan dia meyakini nilai tukar rupiah tidak jauh berada di Rp 13.700 hingga Rp 13.900. Angka tersebut sudah menghitung berbagai indikator. Terutama soal kepastian kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).( jawapos.com)