10 Penyebab Dollar terus Naik

10 Penyebab Dollar terus Naik

1302
0
BAGIKAN KE
10 Penyebab Dollar terus Naik

10 Penyebab Dollar terus Naik

Dolar yang kian hari kian tinggi, menyebabkan beberapa harga kebutuhan naik secara signifikan. Tidak terkecuali harga kebutuhan pokok, seperti cabai, daging dan ayam. Kenaikan ini memang tidak diharapkan oleh masyarakat terutama para penjual komoditas tersebut, yang menyebabkan terganggunya arus pendapatan dan pengeluaran yang berubah juga. Dengan adanya peningkatan harga, alhasil pendapatan yang mereka terima pun berkurang, karena orang-orang akan beralih ke kebutuhan pokok lainnya yang dirasa harganya masih terjangkau dan dapat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti makan sehari-hari atau pun transportasi untuk rutinitas harian mereka.

Ketika artikel ini dibuat rupiah sudah menyentuh angka Rp 14.104 per satu US$. Kira-kira apa saja sih penyebab dolar yang terus menguat terhadap rupiah? Mari kita simak 10 Penyebab Dollar terus Naik berikut ini.

1. Ekonomi Amerika Serikat yang semakin membaik

Pemulihan ekonomi Amerika Serikat pasca krisis 2008 membuat The Fed atau Bank Sentral Amerika merencanakan tapering off atau pemangkasan quantitative easing, disebut juga stimulus ekonomi. Rencana yang dikemukakan gubernur The Fed Ben Bernanke sejak Mei 2013 itu menjadi awal penguatan dolar terhadap keuangan global, yang membuat dolar yang disuplai menjadi berkurang. Sebaliknya Indonesia sebagai negara berkembang, yang mudah terdepresiasi mata uangnya dari pengaruh mata uang negara maju seperti, Amerika Serikat. Mata uang Indonesia mempunyai karakteristik khusus soft currency, yang berarti sensitivitasnya terhadap kondisi ekonomi inetrnasional. Krisis finansial, spekulasi di pasar finansial dan ketidakstabilan ekonomi bisa mengakibatkan jatuhnya nlai soft currency.

2. Terus tertekan oleh signal buruk The Fed

Nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) mulai berfluktuasi tajam ketika The Fed berencana untuk mengurangi pembelian obligasi pada Mei 2013. Merujuk pada hal tersebut, timbul kekhawatiran pemulihan ekonomi di Amerika Serikat akan memiliki dampak kembalinya modal dan mempengaruhi pasar keuangan dunia.

3. Mata uang loyo melanda seluruh dunia

Pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang diikuti dengan pemotongan stimulus oleh The Fed berdampak pada penguatan dolar terhadap mata uang global. Memang jika dibandingkan dengan mata uang yang lain, rupiah tidak terlalu anjlok, namun, tidak juga menggembirakan. Posisinya yang memang di tengah-tengah di antara mata uang negara lain juga tidak terlalu menguntungkan.

Mata uang Ringgit Malaysia memimpin pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS, hingga turun -16,79 %, kembali ke titik terendahnya sejak 17 tahun lalu saat krisis keuangan Asia 1998.

Begitu pula dengan yuan, dikutip dari Reuters, nilai tukar yuan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencapai level terendah yakni 6.4510 yuan per dolar, angka tersebut merupakan yang terendah sejak Agustus 2011.

Beberapa mata uang yang melemah di dataran asia adalah:

  • Won Korea Selatan melemah sebesar 7,9%
  • Baht Thailand melemah sebesar 7,4%
  • Yen Jepang melemah 4,8%

NO COMMENTS