Gereja Singkil Aceh dibakar, NU Meminta Semua Pihak Tidak Terpancing

Gereja Singkil Aceh dibakar, NU Meminta Semua Pihak Tidak Terpancing

355
0
BAGIKAN KE

Gereja Singkil Aceh dibakar

Sebuah gereja di Desa Suka Makmur, Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dikabarkan dibakar pada Selasa (13/10) siang. Pembakaran tempat ibadah yang diduga tidak mengantongi izin itu berakhir bentrok.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Pol Suharsono mengatakan, pembakaran itu diduga dilakukan oleh massa yang berjumlah ratusan.

“Pelaku pembakaran tidak sedikit. Mungkin sekitar ratusan orang,” kata Suharsono saat dihubungi, Selasa (13/10).

Suharsono menambahkan, saat ini pasukan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan anggota Polri sudah diterjunkan untuk melakukan pengamanan di titik tertentu. Namun, ia tak dapat memberi tahu berapa jumlah personel yang dikerahkan.
Gereja Singkil Aceh dibakar
“Saya tidak tahu persis, yang jelas jumlah personel di sana memadai,” ujar Suharsono.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bentrokan antar warga di Kabupaten Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) karena kesalahpahaman. Bentrokan diduga dipicu oleh pembakaran tempat ibadah pada Selasa siang, tadi.

“Saya sudah bicara dengan Gubernur Aceh. Memang ada kesalahpahaman masalah di situ. Jadi mudah-mudahan bisa diselesaikan oleh pejabat di situ, panglima, gubernur, kapolda dia sudah ke sana,” kata JK di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (13/10).

Menurut JK, terdapat satu korban tewas akibat terkena tembakan senapan angin dalam betrokan itu. JK meminta agar seluruh masalah terkait Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) dapat diselesaikan dengan baik.

“Ya semua masalah SARA harus diselesaikan dengan baik, adil, sesuai aturan supaya jangan timbul masalah,” tegas dia.

NU Meminta Semua Pihak Tidak Terpancing

Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) meminta semua pihak untuk tenang dan tidak mudah terpancing atas insiden Gereja Singkil Aceh dibakar. Ketua umum PBNU, KH Said Aqil Siradj mengatakan PBNU menyesalkan terjadinya insiden tersebut.

“Apapun alasan yang melatarbelakangi, aksi main hakim sendiri terlebih dilakukan dengan cara kekerasan tidak bisa dibenarkan oleh hukum,” ujar Said Aqil dalam siaram Pers yang diterima Republika, Selasa malam (13/10).

Ia menjelaskan, Islam bukan agama yang mengajarkan kekerasan. Islam adalah agama akhlak yang diturunkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Untuk itu, PBNU menyerukan agar pihak-pihak yang bersengketa menahan diri. PBNU juga meminta aparat bertindak persuasif dengan sesegera mungkin membuat langkah-langkah mediasi. Pemerintah daerah dengan unsur muspida, ulama,  dan tokoh masyarakat hendaknya mengedepankan pinsip-prinsip mashlahah’ammah dan penegakan hukum yang tegas, adil dengan tetap mengedepankanahlakul karimah.

Sumber:Republika