Kronologi Insiden Kerusuhan Pembakaran Mushala di Tolikara

0
491

Kronologi Insiden Kerusuhan Pembakaran Mushala di Tolikara
Kronologi Insiden Kerusuhan Pembakaran Mushala di Tolikara

Selebaran

Sebelum massa mendatangi lokasi pelaksanaan salat Ied terbetik kabar bahwa terdapat selebaran dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang mendesak umat Muslim di Tolikara bersembahyang di dalam musala dan tidak memakai pengeras suara.

Desakan itu dikemukakan sehubungan dengan kegiatan seminar dan kebaktian tingkat internasional GIDI dari 13 Juli hingga 19 Juli 2015.

Pendeta Socrates Sofyan Yoman dari GIDI mengaku pihaknya memang menyebarkan selebaran itu kepada umat Muslim di Tolikara.

“Surat edaran GIDI memang benar. Salat Ied seharusnya dilakukan di musala, bukan di ruang terbuka, serta tidak menggunakan pengeras suara,” katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Namun, dia berkeras bahwa tindakan massa yang mendatangi lokasi pelaksanaan salat Ied di Lapangan Koramil dan diikuti pembakaran tidak bisa dibenarkan.

“Saya tidak setuju dengan aksi pembubaran itu. Saya pikir itu spontanitas, tidak ada komando. Ini sama sekali tidak direncanakan.”

Menanggapi insiden di Tolikara, Pendeta Herman Saut yang mewakili Forum Pemimpin dan Tokoh Agama Provinsi Papua memohon maaf kepada rakyat Indonesia.

”Kami menyesalkan kejadian itu dan jatuhnya korban jiwa. Kami mendesak pihak berwenang agar segera menyelesaikan masalah dengan tuntas dan proporsional serta memproses para pelaku sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya dalam keterangan pers.

Dia lantas menyerukan bahwa di Indonesia tidak ada salah satu golongan agama yang dapat mengklaim wilayahnya dan melarang umat lain untuk beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan mereka.